Ulasan Buku: Dari Minangkabau untuk Dunia Islam

cover-dari-minangkabau-utk-dunia-islam

(terbit pada HU Pikiran Rakyat, Kamis, 12 Januari 2017)

Bercerita tentang perkembangan Islam di nusantara tak lepas dari peran berbagai tokoh kenamaan. Sebut saja Tuanku Imam Bonjol, Buya Hamka, Haji Agus Salim, dan masih banyak nama lainnya. Tak sedikit pula dari tokoh-tokoh ini yang pengaruhnya bahkan mendunia bahkan menjadi tokoh dunia itu sendiri. Syeikh Ahmad Khatib Al Minangkabawi adalah salah satunya. Ialah ulama tanah air pertama yang diberi amanah dan kepercayaan sebagai khatib dan abdi di Masjidil Haram, Mekkah. Sebuah posisi yang tak semua orang bisa menempati bahkan orang Arab sekalipun di masa itu.

Ahmad Khatib bin Abdul Lathif bin Kalan, demikianlah nama dengan nasabnya. Lahir pada 6 Zulhijjah 1276 H atau 26 Mei 1860 M di Koto Tuo, Kecamatan IV Angkek, Kabupaten Agam. Kedua orang tuanya bersuku Minang dan ia sendiri besar dalam lingkungan suku Minang yang agamis. Terhitung mulai tahun 1298 H Ahmad Khatib diberikan lisensi untuk mengajar di bawah pengawasan Masjidil Haram.

Saat itu, memang banyak orang-orang Indonesia yang ke Mekkah untuk menimba ilmu. Namun, tak semua orang dapat mengajar bahkan berlisensi langsung dari Masjidil Haram. Tak hanya lisensi mengajar, Ahmad Khatib juga diangkat menjadi ulama Mazhab Syafi’i dan mulai berkhutbah di mimbar Masjidil Haram pada usia 36 tahun.

Sejak saat itu, ia begitu dielukan namanya baik di tanah air maupun di jazirah Arab. Banyak surat dari tanah air dikirimkan kepadanya untuk meminta fatwa. Di Mekkah sendiri, majelisnya selalu ramai dihadiri para penuntut ilmu agama. Ialah khatib dan imam Masjidil Haram pertama dari Indonesia yang membuat Indonesia menjadi dikenal dan berjaya namanya di Tanah Arab pada akhir abad 19.

Seperti yang disebutkan pada bagian awal buku, buku ini merupakan hasil terjemahan dari manuskrip otobiografi Syeikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi. Manuskrip ini ditulis langsung oleh Syeikh Ahmad Khatib yang terdiri dari 52 halaman dan setiap halamannya terdiri atas 23 baris. Saat ini manuskrip aslinya disimpan di Perpustakaan Mekkah dan salah satu fotocopy-nya disimpan di Pondok Pesantren Syech Achmad Chatib al-Minangkabawi di tanah kelahirannya.

Tepat empat bulan enam hari setelah otobiografi ini selesai ditulis, Syeikh Ahmad Khatib menghembuskan napas terakhirnya dalam usia kurang lebih 56 tahun. Lewat otobiografi ringkas inilah Ahmad Khatib menuliskan penggalan-penggalan kehidupannya yang mulia.

Buku ini terdiri dari 17 bab utama yang jika dikerucutkan akan menjadi tujuh bagian pokok; mukadimmah, asal usul (kelahiran, keluarga, dan kampung halaman), perjalanan ke Mekkah, pernikahan dan anak-anak, guru-gurunya, nasihat pada anak-anaknya, dan jabaran latar belakang karya-karyanya. Setiap bab ditulis secara ringkas. Penulisan menggunakan alur maju yang kronologis.

Meski merupakan hasil terjemahan dari manuskrip berbahasa Arab tapi bahasa buku ini sangat mudah dipahami. Ketiga penterjemah memiliki latar belakang yang kuat (ketiganya telah mengenyam pendidikan di Madinah dan Mesir) untuk dapat menterjemah bahasa Arab dengan indah dan dengan pendekatan bahasa populer. Seringkali buku terjemahan sulit dipahamai bahasanya, akan tetapi buku ini tidak demikian. Bahasanya mengalir meski berbicara tentang sejarah. Seolah bahasa asli manuskrip itu sendiri adalah bahasa Indonesia (masa itu lebih dikenal bahasa Melayu).

Di samping itu, setiap istilah, nama daerah, nama kitab, dan berbagai kata yang mungkin kurang populer bagi orang awam diberikan catatan kakinya. Meski demikian, sedikit kekurangan adalah catatan kaki tersebut tidak diiringi daftar pustaka di akhir buku. Sehingga agak sulit jika ingin mengecek darimana catatan kaki atau penjelasan itu diambil. Akan tetapi, catatan kaki ini tetap memberikan manfaat pengetahuan baru yang mungkin belum dikenal banyak orang.

Hal lain yang cukup menarik adalah para penterjemah yang menyelipkan koreksi jika tidak ingin disebut bantahan atas beberapa keterangan yang ditulis Buya Hamka dalam bukunya Ayahku dan Islam dan Adat Minangkabau terkait Syeikh Ahmad Khatib.

Sebelumnya, dalam kedua buku di atas, Buya Hamka juga menuliskan biografi dari Syeikh Ahmad Khatib. Bahkan dalam bab sendiri. Akan tetapi, agaknya dari koreksi yang dimunculkan buku ini, memperlihatkan beberapa kesalahan yang cukup banyak dituliskan oleh Buya Hamka pada karangannya. Kesalahan inilah yang dikoreksi secara langsung lewat keterangan yang dituliskan Syeikh Ahmad Khatib pada otobiografinya sendiri ini.

Bertabur Hikmah

Tidak hanya menjadi tahu tentang latar belakang dan kehidupan seorang Syeikh Ahmad Khatib, akan tetapi membaca buku ini akan menghadirkan hikmah-hikmah kehidupan yang baru bagi pembacanya. Dengan sederhana tapi penuh kemuliaan Syeikh Ahmad Khatib menceritakan perjuangannya hidupnya yang penuh rintangan dan ujian kehidupan yang tidak putus-putus. Mulai dari ditahan orantuanya untuk ke Mekkah, pernikahan pertamanya yang tidak mulus bahkan mendapat cacian, hingga hal paling menyakitkan yang dirasakannya ketika anaknya berpaling dari ilmu agama dan meninggalkan majelisnya.

Kisah-kisah  yang mungkin terdengar klasik ini menjadi mengharukan dan penuh hikmah sebab terjadi pada salah seorang ulama besar kenamaan, yang mungkin orang-orang hanya ketahui selama ini hanya kesuksesannya. Akan tetapi, nyatanya, ujian tak lepas bahkan dari orang sukses dan besar seperti Syeikh Ahmad Khatib sekalipun.

Lewat tulisannya ini, Syeikh Ahmad Khatib seolah berbicara pada manusia hari ini, bahwa kehidupan yang penuh ujian itu adalah suatu keniscayaan dan tiada dapat dihindari. Bahwa segala sesuatu didapat dengan perjuangan dan kesungguhan. Dan tentunya tak lepas dari terus mendekatkan diri pada Allah dan kesabaran yang tak putus-putus. (Retno Nurul Aisyah, mahasiswa jurnalistik Fikom Unpad)

Advertisements

One thought on “Ulasan Buku: Dari Minangkabau untuk Dunia Islam

  1. Pingback: Sepenggal Hidup Mulia: Ulasan Buku “Dari Minangkabau untuk Dunia Islam” di Koran Pikiran Rakyat Bandung – Gre Publishing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s